Jangan Asal Bunyi! Jalan Km 55–Malungai Sudah Ditimbun, Kini Wajib Dikawal hingga Permanen
Oplus_131072
Barito selatan, Fakat.id – (23/8/2026) – Kondisi jalan poros dari Km 55 menuju Malungai Raya hingga Muara Malungai, kawasan Bintang Ara, kembali menjadi perhatian. Namun, persoalan infrastruktur tersebut perlu dilihat secara objektif berdasarkan kondisi faktual di lapangan, bukan sekadar narasi yang menyebut seluruh ruas jalan dalam kondisi rusak parah.
Berdasarkan kondisi terkini, sejumlah titik yang sebelumnya mengalami kerusakan dan berlubang telah dilakukan penimbunan menggunakan tanah lempung atau tanah Minang. Sebelumnya, terdapat sejumlah titik lubang yang dikeluhkan masyarakat, dengan jumlah yang disebut berkisar 14 hingga 19 titik.
Memasuki musim kemarau, kondisi ruas tersebut relatif masih aman dan dapat difungsikan oleh masyarakat. Meski demikian, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menganggap persoalan telah selesai.
Tantangan sebenarnya justru akan terlihat ketika musim hujan tiba. Penimbunan sementara tanpa penanganan konstruksi yang permanen berpotensi kembali mengalami kerusakan akibat genangan air, kendaraan bermuatan berat, serta kondisi tanah yang labil.
Karena itu, pemerintah dan instansi teknis terkait perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh. Jangan sampai masyarakat kembali menghadapi persoalan yang sama setiap musim hujan akibat pola penanganan yang hanya bersifat sementara.
Kontrol sosial terhadap pembangunan juga harus ditempatkan secara proporsional. Tidak perlu saling menyerang atau berlindung di balik kepentingan maupun pengaruh pihak tertentu. Yang dibutuhkan adalah keterbukaan, transparansi dan keberanian memastikan setiap pekerjaan infrastruktur benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Lebih jauh, jalan menuju Malungai Raya dan Muara Malungai bukan sekadar akses transportasi masyarakat. Ruas tersebut memiliki potensi strategis untuk membuka akses ekonomi sekaligus mendukung pengembangan pariwisata di kawasan Sungai Ayuh.
Kawasan tersebut memiliki potensi wisata dan budaya yang cukup unik. Salah satunya aktivitas masyarakat Dayak Lawangan dalam menangkap ikan menggunakan sundak atau serapang di lubuk-lubuk Sungai Ayuh. Keberadaan satwa liar, termasuk buaya lokal, juga menjadi bagian dari ekosistem alami yang selama ini hidup berdampingan dengan aktivitas masyarakat.
Selain itu, terdapat tradisi tuba adat yang dilaksanakan masyarakat pada musim kemarau. Tradisi tersebut memiliki nilai budaya yang dapat menjadi daya tarik wisata apabila dikembangkan dengan tetap menghormati adat dan kearifan lokal.
Potensi lainnya berada di kawasan Tulungan Amis, yang disebut memiliki gua-gua alami serta bentang alam perairan yang menarik untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam.
Dengan berbagai potensi tersebut, pembangunan jalan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Jangan menunggu ruas jalan rusak total baru dilakukan penanganan.
Jalan Malungai harus dikawal sampai tuntas. Bukan sekadar ditimbun ketika berlubang, tetapi dibangun dengan perencanaan dan konstruksi yang mampu bertahan menghadapi musim hujan serta mendukung aktivitas masyarakat dalam jangka panjang.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan tidak hanya melakukan penanganan darurat, tetapi mulai menyusun langkah permanen dan berkelanjutan. Sebab, membangun infrastruktur bukan sekadar menyelesaikan persoalan hari ini, melainkan membuka akses bagi masa depan ekonomi, budaya dan pariwisata masyarakat.
Narasumber: Ahmad Riyadi
Penulis/Tim Redaksi: Usupriyadi & Tim
Fakat.id
