Karhutla Sanggau Jadi Perhatian, 6.937 Hotspot Terdeteksi hingga Juli 2026
Oplus_131072
SANGGAU ,Fakat.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian serius di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Berdasarkan infografis Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kalimantan Barat, tercatat 6.937 titik panas (hotspot) di Kabupaten Sanggau dengan tingkat kepercayaan yang berbeda.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 6.234 hotspot berada pada kategori medium atau tingkat kepercayaan menengah. Kemudian 480 titik masuk kategori high atau tingkat kepercayaan tinggi/valid karhutla, sementara 223 titik berada pada kategori low.
Data tersebut menunjukkan tingginya potensi kebakaran yang perlu diantisipasi, terutama pada wilayah yang memiliki karakteristik lahan gambut dan kawasan yang rawan pembukaan lahan.
Dalam data luas karhutla Kabupaten Sanggau periode 2019 hingga Juli 2026, luas kebakaran tercatat mengalami fluktuasi. Pada 2023, luas karhutla mencapai sekitar 7.490,48 hektare, kemudian menurun menjadi sekitar 3.286,68 hektare pada 2024, 2.611,74 hektare pada 2025, dan sekitar 620,88 hektare hingga Juli 2026.
Meski luas indikatif hingga Juli 2026 masih berada di bawah capaian beberapa tahun sebelumnya, keberadaan ribuan hotspot tetap menjadi peringatan penting. Terlebih, sejumlah wilayah Sanggau diketahui memiliki kerawanan karhutla yang cukup tinggi.
Sebelumnya, BPBD Sanggau juga menyebut peningkatan hotspot pada periode Mei-Juni 2026 dipengaruhi minimnya curah hujan serta meningkatnya aktivitas masyarakat dalam membuka lahan. Kecamatan Toba dan Tayan Hilir disebut termasuk wilayah yang memiliki kerawanan cukup tinggi.
Pemantauan lapangan terhadap hotspot juga terus dilakukan. Pada Juli 2026, aparat kepolisian melakukan ground check terhadap sejumlah titik panas yang terdeteksi di Kecamatan Tayan Hulu sebagai bagian dari upaya mencegah kebakaran meluas.
Ancaman karhutla di Sanggau juga memiliki dimensi lintas batas karena wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Malaysia. Asap akibat kebakaran yang terbawa angin berpotensi menimbulkan dampak terhadap kualitas udara dan lingkungan di kawasan perbatasan.
Karena itu, pencegahan karhutla tidak hanya membutuhkan respons ketika api sudah muncul, tetapi juga pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, peningkatan patroli, deteksi dini hotspot, serta keterlibatan pemerintah, aparat, perusahaan dan masyarakat.
Catatan: angka 6.937 hotspot di atas merupakan angka yang tercantum dalam infografis DLHK Kalbar yang diberikan. Angka hotspot dapat berbeda menurut periode pengamatan, sumber satelit, dan kategori kepercayaan. Sebagai pembanding, pemberitaan TVRI Kalbar pada periode Januari–Juli 2026 menyebut 1.340 hotspot di Sanggau, sehingga periode dan metodologi data perlu diperhatikan saat melakukan perbandingan.
Fakat.id
