Sungai Menghitam, Ikan Bergelimpangan Mati: Warga Nanga Gonis Desak Dugaan Limbah PT MPL Diusut!

0
Oplus_131072

Oplus_131072

By Fuad

SEKADAU, Fakat.id – (2/9/2026) – Alarm lingkungan berbunyi dari Nanga Gonis, Desa Merapi, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Air Sungai Nanga Gonis yang selama ini menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat kini tampak berubah warna menjadi hitam. Di tengah aliran air yang menggelap, sejumlah ikan ditemukan mati, bahkan sebagian telah membusuk.

Kondisi yang ditemukan warga pada Selasa (1/9/2026) itu memantik kekhawatiran serius. Masyarakat menduga telah terjadi pencemaran yang berkaitan dengan aktivitas pabrik kelapa sawit PT Makmur Prima Lestari (MPL).

Namun dugaan tersebut tentu harus dibuktikan melalui pemeriksaan lapangan dan uji laboratorium oleh instansi berwenang. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: apa sebenarnya yang terjadi di Sungai Nanga Gonis, dan dari mana sumber pencemaran tersebut berasal?

Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi air sungai yang tidak biasa. Warna air tampak hitam pekat, sementara biota sungai mulai ditemukan mati. Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan sungai, perubahan ini bukan sekadar persoalan pemandangan yang mengkhawatirkan, tetapi ancaman terhadap sumber kehidupan mereka.

Lebih jauh, Sungai Nanga Gonis diketahui memiliki aliran yang terhubung hingga ke Sungai Kapuas. Artinya, jika dugaan pencemaran tersebut benar dan tidak segera ditelusuri, masyarakat khawatir dampaknya dapat menjalar lebih luas.

“Kami minta pihak berwenang, dalam hal ini pemerintah, bisa menelusuri dan menindak tegas sumber yang melakukan pencemaran,” tegas salah seorang warga, Leo Indra, saat ditemui di lokasi.

Leo mengatakan masyarakat selama ini memanfaatkan sungai untuk berbagai kebutuhan, termasuk mencari ikan. Namun kondisi yang terjadi saat ini membuat warga semakin sulit mendapatkan sumber air bersih, terutama di tengah musim kemarau.

Untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian warga bahkan harus mengeluarkan biaya tambahan membeli air galon dengan harga berkisar Rp12 ribu hingga Rp15 ribu. Sementara untuk mandi, masyarakat sebagian memanfaatkan aliran Sungai Kapuas.

Ironisnya, di tengah keterbatasan air bersih tersebut, warga kini dihantui kekhawatiran terhadap dampak kesehatan.

Sejumlah warga mengaku mengalami gangguan kulit. Salah satunya dialami Sari Santika (13), pelajar kelas II SMP, yang mengaku mengalami gatal-gatal hingga kulitnya terkelupas.

“Kulit saya gatal-gatal dan terkelupas. Sudah berobat tapi masih gatal,” ungkap Sari.

Keluhan serupa disampaikan Sadiah. Ia mengatakan anaknya mengalami gatal-gatal pada bagian badan dan tangan sejak sekitar satu hingga dua bulan terakhir.

“Kami mandi memang di Sungai Kapuas, tapi terhubung juga Sungai Nanga Gonis yang di hulu diduga tercemar limbah,” ujarnya.

Meski terdapat keluhan kesehatan dari warga, hubungan langsung antara gangguan kulit tersebut dengan kualitas air tetap perlu dibuktikan melalui pemeriksaan medis dan pengujian ilmiah.

Namun bagi masyarakat, kondisi yang mereka lihat hari ini sudah cukup menjadi alasan untuk meminta negara hadir. Air menghitam, ikan mati, dan keluhan warga tidak seharusnya dibiarkan menjadi cerita yang berlalu tanpa penyelidikan.

Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum kini didesak untuk turun langsung. Pengambilan sampel air, pemeriksaan sumber limbah, serta audit terhadap aktivitas industri di sekitar aliran sungai menjadi langkah yang dinilai mendesak dilakukan.

Jika hasil investigasi nantinya menemukan adanya pelanggaran lingkungan, masyarakat meminta agar penegakan hukum dilakukan secara tegas dan transparan. Tidak boleh ada kompromi ketika persoalan lingkungan telah menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Sungai bukan tempat membuang masalah. Ketika air berubah hitam dan ikan mulai mati, publik berhak bertanya: siapa yang bertanggung jawab?

Kini warga Nanga Gonis menunggu jawaban. Bukan sekadar klarifikasi, melainkan pembuktian ilmiah dan tindakan nyata untuk memastikan Sungai Nanga Gonis kembali aman bagi kehidupan masyarakat dan lingkungan.

Fakat.id


By Fuad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *