Anak-anak Tampil, Pejabat Malah Sibuk Berfoto: Di Mana Penghargaan untuk Perjuangan Mereka?
Oplus_131072
SANGGAU, Fakat.id – Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Komando, Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Senin (17/8/2026), menyisakan sorotan tajam dari sejumlah orang tua peserta.
Bukan karena penampilan anak-anak yang mengecewakan. Justru sebaliknya, anak-anak tersebut disebut telah memberikan penampilan terbaik setelah menjalani latihan selama hampir dua minggu, bahkan dua kali sehari.
Yang menjadi persoalan, ketika anak-anak tampil di hadapan pejabat dan tamu undangan, perhatian sejumlah pejabat justru dinilai lebih tersita untuk aktivitas berfoto.
Kondisi itu membuat sejumlah orang tua kecewa. Mereka menilai, anak-anak yang sudah berlatih siang dan malam setidaknya layak mendapatkan perhatian penuh selama beberapa menit ketika berada di depan panggung kehormatan.
“Ada anak saya juga di situ. Mereka latihan kurang lebih dua minggu, satu hari dua kali, siang dan malam,” ujar salah satu orang tua peserta.
Menurutnya, persoalannya bukan melarang pejabat berfoto. Namun, jangan sampai kamera lebih diperhatikan daripada anak-anak yang sedang mempertontonkan hasil latihan mereka.
Sebab, bagi anak-anak, tampil di hadapan masyarakat bukan perkara sepele. Mereka harus berlatih, menghafal gerakan, membangun keberanian dan menahan rasa gugup agar mampu memberikan penampilan terbaik.
“Anak-anak ini sudah latihan siang malam. Setidaknya ketika mereka tampil, berikan perhatian dan apresiasi. Itu tentu akan membuat mereka merasa dihargai,” tegasnya.
Sorotan tersebut sekaligus menjadi pertanyaan sederhana: untuk siapa sebenarnya persembahan itu ditampilkan?
Jika anak-anak sudah menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk berlatih, sementara sebagian tamu justru sibuk dengan kamera dan urusan masing-masing, tentu wajar jika orang tua mempertanyakan bentuk penghargaan yang diberikan kepada para peserta.
Apalagi kegiatan tersebut merupakan bagian dari perayaan kemerdekaan. Semangat kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan dokumentasi, tetapi juga tercermin dari bagaimana generasi muda diberikan ruang, perhatian dan penghargaan.
Jangan sampai anak-anak diminta tampil untuk memeriahkan acara, tetapi ketika mereka tampil, justru merasa tidak dianggap.
Kritik orang tua ini pun patut menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara maupun para pejabat yang hadir. Berfoto tentu bukan persoalan. Namun, menyaksikan dan menghargai penampilan anak-anak yang telah berlatih keras semestinya tidak membutuhkan waktu berjam-jam—cukup beberapa menit untuk menunjukkan bahwa perjuangan mereka benar-benar dilihat.
Kini pertanyaannya, apakah momentum tersebut akan menjadi bahan evaluasi, atau justru kembali berlalu sebagai seremoni yang hanya meninggalkan dokumentasi foto?
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh tanggapan resmi dari pihak penyelenggara maupun pejabat yang disorot terkait keluhan sejumlah orang tua peserta tersebut.
Fakat.id
