BUKIT HUJAN EMAS MEMBARA! 6,6 Hektare Gambut Dilalap Api, Komandan Satgas Susana Herpena Turun Langsung Hadapi Medan Ekstrem
Oplus_131072
SANGGAU, Fakat.id – Karhutla kembali menguji kesigapan Kabupaten Sanggau. Di Desa Kawat, Kecamatan Tayan Hilir, api membakar lahan gambut hampir 6,6 hektare, memaksa petugas berhadapan dengan medan ekstrem, kemiringan hingga 80 derajat, serta kepungan asap pekat.

Di tengah kondisi tersebut, Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena, S.Sos., M.H. selaku Komandan Satgas Karhutla Kabupaten Sanggau, memilih turun langsung ke lokasi.
Sabtu, 12 September 2026 sekitar pukul 16.00 WIB, Susana menyaksikan dari dekat perjuangan petugas di kawasan lereng Bukit Hujan Emas. Lokasi kebakaran berada sekitar 800 meter dari jalan utama, membuat akses menuju titik api tidak mudah.
Sebanyak 9 regu dikerahkan untuk melakukan pemadaman sekaligus melokalisasi kobaran api agar tidak semakin meluas.

Medan terjal dan karakteristik lahan gambut menjadi tantangan tersendiri. Api di lahan gambut bukan hanya persoalan kobaran yang terlihat di permukaan, tetapi juga membutuhkan kewaspadaan terhadap titik panas yang dapat terus bertahan dan berpotensi kembali menyala.
Bukan Sekadar Dokumentasi
Susana menegaskan bahwa dokumentasi dan laporan penanganan Karhutla bukan sekadar kegiatan seremonial maupun pencitraan.
Dokumentasi tersebut menjadi bagian dari transparansi dan pertanggungjawaban kepada masyarakat, sekaligus memperlihatkan kondisi nyata yang dihadapi para petugas di lapangan.

Pesannya tegas: keselamatan dan kesehatan masyarakat harus berada di atas segala-galanya.
Sebab, dampak Karhutla tidak berhenti pada lahan yang terbakar. Kemarau panjang, kekeringan dan kabut asap telah berpotensi mengganggu berbagai sendi kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, distribusi logistik, pendidikan hingga kesehatan.
Karena itu, masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Sanggau—yang terdiri dari 15 kecamatan, 163 desa dan 6 kelurahan—diajak mengambil peran aktif.
Masyarakat diminta segera melaporkan setiap titik api, memperkuat gotong royong, mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker, menghemat air, serta membantu warga yang terdampak.

Satgas Tak Bisa Bekerja Sendirian
Besarnya tantangan Karhutla membuat penanganan tidak mungkin hanya dibebankan kepada Satgas.
Di tengah keterbatasan sumber daya dan anggaran, kekuatan utama justru berada pada kolaborasi seluruh elemen.
BUMN, BUMD, Credit Union, perbankan, perusahaan perkebunan, perusahaan pertambangan, pelaku usaha dan masyarakat luas didorong mengambil bagian dalam upaya penanganan serta pencegahan Karhutla.
Ini bukan lagi persoalan satu institusi.
Ketika asap memenuhi udara, dampaknya dirasakan bersama. Ketika lahan terbakar, ancamannya juga menjadi tanggung jawab bersama.
9 Regu Bertaruh Tenaga di Lereng Terjal
Di balik angka 6,6 hektare, terdapat perjuangan panjang para petugas yang harus menembus medan sulit demi mengendalikan api.
Penghormatan dan apresiasi disampaikan kepada TNI, Polri, Brimob, Manggala Agni, Damkar, MPA, tenaga medis, relawan, tim dapur umum serta masyarakat yang terus berada di garis depan penanganan bencana.
Mereka bukan sekadar hadir dalam laporan.
Mereka berhadapan langsung dengan panas, asap dan medan ekstrem untuk mencegah api semakin meluas.
Kepada seluruh personel di lapangan, pesan Komandan Satgas jelas: tetap kompak, tetap tangguh, pantang menyerah, tetapi jangan mengabaikan keselamatan dan kesehatan.
Karena perjuangan melawan Karhutla bukan hanya tentang memadamkan api.
Ini tentang menyelamatkan manusia, menjaga lingkungan dan mempertahankan kehidupan masyarakat Sanggau.
Di tengah langit yang masih diselimuti kekhawatiran akibat kemarau, harapan masyarakat kini tertuju pada satu hal: hujan segera turun dan membasahi Bumi Daranante.
Sanggau adalah rumah kita.
Bumi Daranante adalah tanggung jawab kita.
Kompak. Tangguh. Pantang Menyerah!
Fakta.id
